10.11.10
> 01.09.10: Lailatulkadar dan Hukum Pareto

Lailatul Qodar & Hukum Pareto
Jakarta Wed 01 Sep 2010
LAILATUL Qodar adalah satu malam di bulan Ramadan yang jika seseorang beribadah maka nilai pahalanya adalah khoirun min alfi syahrin ‘“ lebih baik dari 1.000 bulan. Demikian firman Allah SWT didalam Al-Quran. Darimana datangnya angka 1.000 bulan?
Syahdan, zaman dahulu ada tiga orang saleh dari Bani Israil yang selama 80 tahun terus menerus beribadah kepada Allah SWT. Mendengar kisah ini para sohabat merasa heran dan iri - dalam semangat fastabiqul khoirot berlomba-lomba dalam kebaikan - bagaimana mungkin selama puluhan tahun orang bisa beribadah secara terus-menerus? Jika rata-rata umur ummat Muhammad adalah 60-70 tahun maka bagaimana mungkin ummat ini bisa menandingi ibadahnya Hizqil, Zakaria dan Yusa‘?
Maka turunlah basyiron kabar gembira berupa ayat diatas bahwa ada 1 malam dari 354 malam tahun Qomariah yang nilai pahalanya bisa mengalahkan ibadah ketiga orang saleh tadi. Maha Suci Allah dengan segala kehendak-Nya, karena di satu hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dilupakan pada malam ke berapa turunnya Lailatul Qodar itu, sehingga Nabi hanya menyebutkan fii asyril awaakhiri ‘“ di salah satu malam dari 10 malam terakhir. Di hadits lain, Lailatul Qodar disebutkan turun di malam ganjil.
Maka di 10 hari terakhir bulan Ramadan, ummat Islam melaksanakan itikaf atau tinggal di mesjid, untuk melaksanakan ibadah hatta matla‘il fajr ‘“ sampai terbit fajar. Dan karena tahun ini awal puasa di Indonesia bersamaan, maka itikaf pun dimulai malam 21 yang jatuh bersamaan pada hari Senin 30/8.
Ibadah Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadan disebutkan di hadits adalah ‘bagaikan angin yang dilepas‘. Artinya, ada intensitas ibadah yang meningkat ibaratnya deret kali, dan meningkat lagi ibaratnya eksponensial selama 10 malam terakhir.
Mengapa? Karena pahala semua amal ibadah selama Ramadan dilipat bi asyri amtsalihaa ‘“ sepuluh kali lipat, dan didalam salah satu dari 10 hari terakhir, ya itu tadi, pahalanya khoirun min alfi syahrin ‘“ lebih baik dari 1.000 bulan.
Hikmah apa yang dapat diambil dari ‘ibadah Nabi bagaikan angin yang dilepas‘ di bulan Ramadan bil khusus selama 10 malam terakhir?
Pada tahun 1906 Vilfredo Pareto seorang ekonom Italia melihat bahwa 80 persen tanah di Italia dikuasai oleh hanya segelintir kecil 20 persen populasi. Dia lalu memformulasikan hukum Pareto 80-20 yang ternyata masih masih berlaku seabad kemudian sampai sekarang, bahwa 80 persen output dihasilkan dari hanya 20 persen input.
Sebanyak 80 persen sales dihasilkan dari hanya 20 persen salesman. Sebanyak 80 persen omzet sebuah toko dihasilkan dari penjualan hanya 20 persen jenis barang. Sebanyak 80 persen laba BUMN/D dihasilkan hanya dari 20 persen BUMN/D. Sebanyak 80 persen output perusahaan dihasilkan dari kerja hanya 20 persen karyawan. Sebanyak 80 persen aktivitas dilakukan dengan memakai hanya 20 persen baju yang ada di lemari.
Maka, sebagaimana Nabi yang ‘beribadah bagai angin yang dilepas‘ selama Ramadan, fokuskan segenap resources didalam kehidupan sehari-hari dan di dunia korporasi untuk 20 persen input yang menghasilkan 80 persen output. Khusus untuk karyawan, tentu saja tidak dimaksudkan untuk mengeliminasi 80 persen karyawan yang hanya berkontribusi terhadap hanya 20 persen output perusahaan, melainkan bagaimana meningkatkan kemampuan mereka. Sedangkan untuk baju, shodaqohkan sajalah 80 persen baju yang jarang apalagi tidak pernah dipakai, daripada mubadzir dan hanya memenuhi lemari.
Untuk fulusy, menurut Robert Kiyosaki hukumnya bukan lagi 80-20 tapi 90-10. Total 90 persen uang di dunia ini dimiliki oleh segelintir kecil 10 persen populasi. Total 90 persen akumulasi royalti penulis di dunia dihasilkan oleh hanya 10 persen penulis saja. Diantaranya adalah JK Rowling penulis Harry Potter dan Kiyosaki itu sendiri penulis Rich Dad Poor Dad. Di Indonesia, sejak September 2000 buku ini sudah naik cetak 25 kali.
Di Indonesia, 90 persen pendapatan royalti dimiliki oleh 10 persen penulis, diantaranya Habiburrahman El Shirazy penulis Ayat-Ayat Cinta, Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi dan beberapa orang penulis buku best seller lainnya.
Terjadi lonjakan dahsyat di 10 hari terakhir di Makkah dari orang yang melaksanakan ibadah umroh lailatul qodar. Dan puncaknya di malam 27 dimana sedemikian padatnya lautan manusia di Kabah sehingga konon jauh lebih sulit melaksanakan tawaf di malam itu dibandingkan di musim haji sekalipun.
Di Indonesia, puncak Ramadan adalah malam ke 17 karena sudah menjadi agenda resmi negara untuk memperingati Nuzulul Quran yang kemarin 26/8 diselenggarakan di Istana Negara.
Ketika awal abad 19 Hukum Pareto diformulasikan, sesungguhnya belasan abad silam Islam sudah mengajarkan prinsip-prinsip itu. Bahwa diantara 114 surat ada satu surat istimewa Al-Ikhlas yang jika dibaca tiga kali pahalanya sama dengan satu khataman Al-Quran. Bahwa satu kali membaca surat Yasin pahalanya tiga kali khataman Al-Quran.
Margasatwa tak berbunyi, gunung menahan nafasnya, angin pun berhenti, pohon-pohon tunduk,dalam gelap malam, pada bulan suci Quran turun ke bumi... Inilah malam seribu bulan, ketika Tuhan menyeka air mata kita, ketika Tuhan menghapus dosa-dosa kita.
Itulah senandung Trio Bimbo dengan lirik Taufiq Ismail 35an tahun yang lalu yang Alhamdulillah saat ini bisa didengarkan di youtube.com dengan memasukkan keywords “Bimbo - Lailatul Qadar”.
Allohumma innaka ‘afuwwuun kariim tuhibbul ‘afwa fa‘fu annaa ‘“ Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia dan menyenangi maaf, maka maafkanlah kami. Demikian doa yang disunnahkan diperbanyak diucapkan selama itikaf.
Masih tersisa 7 malam lagi. Selamat itikaf di masjid. Selamat mencari Lailatul Qodar. Dan selamat mengaplikasikannya didalam kehidupan.
9.11.10
> 25.08.10: Ulama dan Umaro

Ulama dan Umaro
Jakarta Wed 25 Aug 2010
ULAMA adalah warotsatul anbiya atau pewaris para Nabi, demikian bunyi sebuah hadits. Di Indonesia jumlah ulama banyak sekali, dan Majelis Ulama Indonesia mulai MUI Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat adalah wadah resminya. Ketua Umumnya yang adalah Rois Aam NU KH Sahal Mahfuz dan Wakil Ketua Umumnya yang adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin merepresentasikan bahwa di MUI semua atribut aliran madzhab, dilepas. Alhamdulillah.
Umaro adalah pemimpin yang dipilih umat untuk memimpin mereka. Panduan pemilihannya sederhana. Barangsiapa memilih umaro ‘ala fiqhin karena keprofesionalannya, maka hayatan lahu walahum hidup pemimpin dan hidup pula umat. Sebaliknya jika dipilih ‘ala ghoiri fiqhin bukan karena keprofesionalannya, maka halaka lahu walahum baik pemimpin maupun umat, sama-sama akan rusak.
Umaro di kalangan ormas atau orpol mulai dari Ketua Pimpinan Anak Cabang di tingkat Kelurahan sampai Ketua Umum di tingkat Nasional. Umaro di lingkungan perusahaan mulai dari kepala regu sampai Direktur Utama.
Bedanya, Ketua di ormas atau orpol dipilih di Munas sebagai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dengan peserta perwakilan seluruh provinsi. Sedangkan Direksi ditunjuk oleh pemegang saham melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Ketua Umum sebuah ormas atau orpol adalan manusia organg paling mahal di organisasinya, karena untuk memilihnya perlu biaya mahal untuk mendatangkan utusan propinsi di Munas.
Siapakah manusia yang nilainya paling mahal di sebuah negeri? Tentu saja Umaro alias Ulil Amri alias pemimpin negeri itu. Untuk memilihnya melewati proses yang sangat panjang dan melelahkan, dengan biaya yang amat sangat mahal pula. Setelah umaro terpilih, treatment yang diberikan tentu saja memerlukan biaya yang sangat mahal pula.
Barack Obama asalnya bukanlah siapa-siapa. Tetapi ketika terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, maka treatment yang diberikannya menjadi luar biasa. Orang sipil yang tiba-tiba saja menjadi Panglima Tertinggi atas Angkatan Bersenjata negara adidaya. Yang kepadanya selalu standby pesawat kepresidenan Air Force One. Dan kemana-mana dikelilingi Secret Services. Smartphone yang awalnya hanya BlackBerry diganti menjadi BarrackBerry, satu-satunya di dunia, semata-mata supaya keberadaannya tidak terdeteksi.
Pantaslah, tentunya setidaknya untuk kalangan Muslim yang percaya kepada Al-Quran, Alloh SWT berfirman supaya manusia taat kepada Allah, taat kepada Rasul, dan taat kepada ulil amri yang bagi sekalangan ulama diberi makna pemimpin sebuah negeri.
Bedanya, taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah mutlak, sedangkan taat kepada ulil amri sepanjang tidak maksiat dan tidak bententangan dengan peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh para wakil rakyat yang memilihnya.
Maha Suci Allah, sebab jika tidak ada ayat yang memerintahkan manusia taat kepada ulil amri, alangkah kacaunya dunia ini.
Bayangkan, di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini, dengan santainya fatwa Ulama dikecam dan dicela, tanpa hujjah yang nyata pula. Ironisnya, yang mengecam dan mencela adalah orang yang tidak memiliki ilmu agama yang cukup, sehingga hujjah yang diberikan tidak berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan Al-Hadits, melainkan semata-mata royu alias fikiran sendiri. Lebih ironis lagi, kecaman dan celaan itu dimuat pula di media.
Idem, kepada umaro yang dipilih oleh rakyat. Kecaman dan celaan sepertinya tidak ada hentinya. Bicara salah, tidak bicara salah. Bicara sedepa dikatakan kependekan, seharusnya sehasta. Bicara sehasta dikatakan kepanjangan, seharusnya sedepa. Bicara detil, dikatakan tidak pantas seorang pemimpin mengurus tetek-bengek. Bicara tidak detil, dikatakan pemimpin tidak menyentuh hal yang mendasar.
Jadi mau Ulama dan Umaro seperti apa? Apakah mau Ulama yang sekalian saja tanpa ampun memfatwakan memberlakukan hukum qisos sehingga semua bebatuan habis dipakai untuk meranjam para pezina? Apakah mau Umaro yang demi kesejahteraan rakyatnya bertindak dengan tangan besi?
Give me a break, kata orang Barat. Give them room for error, masih kata orang Barat. Ulama dan Umaro itu juga manusia biasa yang tidak lepas dari lupa dan salah. Beri mereka ruang untuk lupa dan salah.
Ada sebuah koran ibukota yang setiap harinya memuat perubahan ucapan tokoh pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat yang tidak konsisten. Maksudnya barangkali, inilah tokoh yang ucapannya ‘pagi tempe sore tahu‘. Padahal decision making adalah sebuah proses yang dinamis. Ketika ada perubahan atau penambahan informasi, maka keputusan justru harus diperbaiki. Manusia masa kini bukanlah Ksatria Laskar Pajang yang pantang menjilat ludah sendiri. Didalam Al-Quran saja dikenal nasih-mansuh. Sama sekali bukan tidak konsisten, melainkan karena asbabun-nuzul atau asal-usul turunnya ayat terjadi di saat yang berbeda.
Kepada tiga pemimpin negeri yang sudah dipanggil ke haribaan-Nya, diberinya julukan ‘gila‘. Ada yang ‘gila wanita‘, ada yang ‘gila tahta‘ dan ‘yang memilihnya yang gila‘. Astaghfirullah.
Di usianya yang ke 65, Republik ini masih ramai dengan seminar dan lokakarya mencari bentuk ‘karakter bangsa‘. Jangan jauh-jauh, cukup amalkan saja salah satu perintah akhlaqul karimah dari Rasulullah SAW untuk takdzim kepada ‘dzuu syaibah fil Islam‘ -mereka yang sudah beruban, banyak makan asam-garam, banyak ilmu, para Ulama dan umaro. Karena berdasarkan hadits, Ulama yang faqih itu ditinggikan beberapa derajat di sorga karena ilmunya, sedangkan Umaro yang adil itu derajatnya sama dengan Nabi dan syuhada. Insya Allah.
> 18.08.10: Perang GCG Pasca Kemerdekaan

Perang GCG Pasca Kemerdekaan
Jakarta Wed 18 Aug 2010
“Akan ada perang yang jauh lebih dahsyat dari ini” sabda Nabi usai memenangkan perang Badar dimana 313 orang muslimin melawan 1000 orang musyrikin. Artinya 1 lawan 3. Namun hasilnya 70 musyrikin mati, 70 ditawan, atau total 140 korban, sedangkan hanya 14 muslimin yang syahid. Artinya 1 banding 10.
Apakah perang yang lebih dahsyat dimana rasio input 1/3 sedangkan rasio output 10/1? ”Perang melawan hawa nafsu” sabda Nabi.
Enam puluh lima tahun para pejuang kemerdekaan membebaskan Indonesia dari penjajahan yang selama ratusan tahun menyengsarakan rakyat. Kemerdekaan yang ditebus dengan tidak terhitung nyawa syuhada.
Lalu apakah Indonesia sudah betul-betul merdeka? Dan -sebagaimana tercantum didalam Mukadimah UUD 1945- apakah sudah berhasil melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia? Apakah sudah berhasil memajukan kesejahteraan umum? Apakah sudah berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa?
Sebagaimana paska perang Badar, ternyata ada perang yang lebih dahsyat daripada perang revolusi merebut kemerdekaan. Jika dulu perang revolusi fisik memerdekakan diri dari 1 hal yaitu penjajahan, maka sekarang perang non-fisik memerdekakan dari dari banyak hal.
Sebagaimana dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam ”kalimat negatip” pada pidato kenegaraan HUT Kemerdekaan RI ke 65 di Gedung MPR/DPR/DPD Senayan, Jakarta, Senin 16/8, bahwa Indonesia masih harus berjuang memerdekakan diri dari 5 hal: korupsi, diskriminasi, anarkis, ekstremisme, dan terorisme. Semuanya pekerjaan hawa nafsu.
Pejuang Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang adalah sebagaimana muslimin melawan musyrikin di Badar. Wujudnya jelas. Tetapi ketika melawan hawa nafsu, wujudnya tidak jelas. Karena hawa nafsu dibawa oleh syetan yang disebutkan di sebuah hadits mengalir didalam aliran darah. Bagaimana menaklukkannya sesuatu yang mengalir didalam darah? Maka itulah Nabi menyebutnya sebagai peperangan yang jauh lebih dahsyat.
Beberapa cikal-bakal BUMN didirikan dari hasil pampasan perang. Beberapa masih eksis sampai sekarang. Misalnya pabrik kertas Padalarang yang berdiri tahun 1924 dan Leces tahun 1940. Saat ini ada 141 BUMN dengan total aset Rp2.234 triliun, atau setara dengan 40 persen PDB.
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan di ratusan lokasi upacara HUT Proklamasi ke 65 di seluruh BUMN se-Indonesia, 17/8, pesan Menteri BUMN yang sedang menggagas BUMN menjadi World Class Corporations disampaikan dengan sangat tegas karena menggunakan ”kalimat negatif”: meningkatkan kinerja BUMN dengan meninggalkan praktek-praktek yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Tentu saja pesan Good Corporate Governance (GCG) itu berlaku universal bagi seluruh dunia korporasi. Bahkan non-korporasi Good Governance (GG).
Sabda Nabi, setelah Badar dimenangkan, bersiap-siaplah berperang melawan musuh berikutnya yang jauh lebih dahsyat: syetan hawa nafsu. Senada dengan ucapan Presiden SBY, setelah 65 tahun merdeka, bersiap-siaplah melawan musuh berikutnya yang jauh lebih gawat: syetan korupsi, diskriminasi, anarkis, ekstremisme, dan terorisme. Senada dengan ucapan Menteri BUMN, setelah sedemikian besarnya BUMN dan menjadi sokoguru ekonomi bangsa, bersiap-siaplah berperang melawan musuh yang jauh lebih jahat: syetan anti GCG.
Peperangan yang bukan hanya memerlukan hardskills iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan softskills bangpri (pengembangan kepribadian) tetapi terutama supraskills imtaq (iman dan taqwa). Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur, Republik Indonesia.
Teddy Suratmadji
> 11.08.10: Puasa Ramadan vs. Produktvitas

Puasa Ramadan Vs Produktifitas
Jakarta Wed 11 Aug 2010
Buniyal Islam ‘ala khomsin ‘“ dibangun Islam atas lima perkara. Demikian bunyi sebuah hadits. Syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Puasa yang dimaksud adalah puasa wajib di bulan ramadan.
Tidak makan dan minum sejak imsak beberapa menit menjelang adzan sholat subuh sampai saat adzan maghrib adalah sebuah tantangan. Tetapi tidak ada pilihan, karena puasa ramadan sebagai salah satu rukun Islam hukumnya adalah wajib.
Yang menjadi isu adalah apakah selama puasa ramadan dengan perut keroncongan dan tenggorokan haus akan mempengaruhi produktifitas?
Bagi yang sudah terbiasa puasa sunnat Senin-Kamis, misalnya mantan Wapres BJ Habibie, memasuki ramadan tentunya tidak masalah. Apalagi yang sudah terbiasa puasa sunnat Nabi Daud selang sehari sepanjang tahun.
Bagi yang sama sekali tidak menjalankan puasa sunnat, memasuki ramadan tentu saja akan mengalami masa ‘penyesuaian‘ full dengan rasa lapar, haus, lemas dan ngantuk. Tetapi itu hanya beberapa hari saja.
Sebenarnya jika puasa ramadhan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya menjalankan perintah meninggalkan makan minum, tetapi juga meninggalkan larangan lainnya selama ramadan, produktifitas kerja justru seharusnya meningkat.
Selama puasa ramadhan dilarang marah. Artinya emosi harus dikontrol. Di dalam hadits, jika ada yang mengajak berantem, katakan sebanyak 2 kali ‘innii shooimun‘ -saya sedang puasa. Jadi selama ramadhan kontraproduktifitas akibat boss atau kolega yang mudah marah, misalnya, dapat ditekan.
Selama puasa ramadhan dilarang berbicara lahan yang tidak ada gunanya, apalagi berbohong, sebab barangsiapa yang selama puasa ramadhan tidak mengontrol mulutnya faqod lagho maka puasanya sia-sia. Jadi selama ramadhan kontraproduktifitas akibat ngerumpi atau politics at works, atau ngibul alias bohong, misalnya, dapat ditekan.
Selama puasa ramadhan dilarang melihat perkara lahan sebab, seperti juga berbicara lahan, akan menyebabkan puasanya faqod lagho, sia-sia. Jadi selama ramadhan kontraproduktifitas akibat korupsi waktu untuk melihat situs biru, misalnya, dapat ditekan.
Nah, kalau di lingkungan pekerjaan emosi lebih stabil, ngerumpi dihindari, jujur berjamaah tidak berbohong, tidak mencuri waktu melototin situs bernoda, dll, dll, bukankah sebetulnya puasa ramadhan itu justru menekan kontraproduktifitas alias meningkatkan produktifitas?
Waktu istirahat makan siang umumnya 1 jam. Tetapi kenyataannya lebih dari itu. Apalagi di kalangan eksekutif. Molornya na‘udzubillah. Kecuali tentu saja business lunch dengan mitra bisnis. Nah, selama ramadan ‘korupsi waktu‘ terselubung makan siang ini praktis ini bisa hilang.
Satu lagi. Tidak ada yang ingin berbuka puasa kecuali dengan keluarga di rumah. Maka itu di banyak perusahaan, jam kerja diawalkan lebih pagi dan istirahat makan siang diperpendek menjadi setengahnya dengan tujuan jam pulang bisa dimajukan.
Dampak positipnya pekerja menjadi lebih time oriented. Lembur menjadi drop. Overtime costs bisa turun.
Walhasil, selama puasa ramadhan sesungguhnya produktifitas bisa meningkat. Hanya saja secara ilmiah belum pernah diteliti. Sensitif.
Jika ternyata produktifitas turun, apakah mau menyalahkan puasa ramadhan? Kan tidak mungkin. Sebaliknya, jika ternyata produktifitas meningkat, apakah kemudian perusahaan akan mewajibkan pekerjanya untuk puasa sepanjang tahun? Kan juga tidak mungkin.
Tetapi percayalah, jika semua perintah dikerjakan dan larangan ditinggalkan, puasa ramadan sesungguhnya dapat meningkatkan produktivitas. Insya Allah. Selamat puasa.
> 04.08.10: Megalomania
MegalomaniaJakarta Wed 04 Aug 2010
“Apa yang mencegahmu sehingga engkau tidak mau sujud ketika Aku memerintahkanmu untuk sujud?” tanya Allah kepada Iblis. Saat itu Alloh menciptakan Adam, dan memerintahkan Malaikat dan Iblis yang sudah diciptakan lebih dulu untuk sujud kepada Adam. Malaikat sujud, tetapi Iblis tidak.
“Ana khoirun minhu ‘“ Aku lebih baik dari dia” jawaban Iblis.
“Engkau jadikan aku min naar ~ dari api sedangkan Engkau jadikan dia min tiin ~ dari tanah” katanya lagi.
Itulah peristiwa pembangkangan perdana didalam sejarah penciptaan makhluk isi alam semesta. Pembangkangan yang disebabkan megalomania, sebuah sindrom merasa hebat, besar, unggul, lebih segalanya dari yang lain.
Malaikat yang terbuat min nur dari cahaya mau sujud kepada Adam, padahal cahaya lebih tinggi derajatnya dari api dan tanah. Kecepatan cahaya yang 300 ribu kilometer per detik, misalnya, sampai sekarang belum ada dzat lain yang bisa menandinginya. Karena pembangkangan itu Iblis pun diusir dari sorga.
Segala sesuatu yang besar itu pada umumnya baik, tetapi jangan ketika sudah besar kemudian menjadikan sombong, takabur, atau lupa diri. Yang lebih repot lagi jika sebenarnya tidak besar, tetapi merasa dirinya besar.
Power syndrome dialami oleh mereka yang sebelumnya, dalam batas-batas tertentu, mengalami sindrom megalomania. Seorang pensiunan perwira tinggi yang puluhan tahun didampingi ajudan, sulit menerima kenyataan tiba-tiba harus booking tiket sendiri.
Setelah mengalami kehidupan yang “up and down” tetap saja banyak dijumpai individu yang ketika sudah melewati usia produktif dan memasuki masa pensiun, ternyata belum memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi masa-masa pensiun. Akibatnya, waktu yang seharusnya lebih banyak digunakan untuk taqorrub ilalloohi mendekatkan diri kepada Allah, justru masih digunakan untuk bekerja mencari nafkah.
Dalam skala korporasi, setelah mengalami masa-masa yang “up and down” , kebanyakan perusahaan di dunia yang hanya bertahan tiga generasi. Megalomania yang berdampak kepada ketidak-waspadaan kontrol juga menimpa perusahaan yang sudah berumur ratusan tahun. Bank Barings yang berdiri 1763 bangkrut hanya oleh seorang trader bank itu yang bergerak sendiri tanpa kontrol: Nick Leeson. Di tahun kebangkrutannya 1994 merchant bank tertua itu hanya dihargai 1 poundsterling.
Dalam skala negeri, ah, lihat saja dari sekian banyak bangsa-bangsa Eropa peserta Piala Dunia 2010 yang dulunya begitu merajai dan menjajah berbagai pelosok di dunia, masih berapa dari mereka yang secara ekonomi dan politik masih eksis di percaturan dunia?
Kembali ke Iblis. Pengusirannya dari sorga berbuntut panjang. Dia bersumpah la amlanna jahannama ~ akan mengisi penuh neraka jahannam dengan cara menggoda manusia. Antara lain dengan sifat megalomania sehingga lupa kepada Allah Dzat yang menciptakan segala sesuatu.
Indonesia adalah negeri yang sangat luas. Bentangannya dari Timur ke Barat hampir sama dengan bentangan negara adidaya Amerika Serikat. Bedanya, disana semuanya daratan yang dapat ditempuh dengan jalan darat, sedangkan disini sebagian besar lautan yang terdiri atas ribuan pulau yang hanya dapat ditempuh melalui jalan air.
Kekayaan sumber daya alam Indonesia yang hanya punya 2 musim tidak ada duanya. Tempat kolam susu, batu dan kayu jadi tanaman, kata Koes Plus.
Satu yang harus dihindarkan bangsa ini: jangan pernah dijangkiti sindrom megalomania. Jalan dan bahan untuk menuju baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur sudah melimpah-ruah tersedia. Tinggal bagaimana memanfaatkannya. Insya Allah.
Teddy Suratmadji