20.7.10

> 05.05.10: Spiritual Bipartit






Spiritual Bipartit

Jakarta Wed 05 May 2010

"Ya Allah, hamba punya seorang pegawai yang pergi sebelum hamba sempat membayar upahnya" kata seorang pengusaha yang kehujanan di tengah hutan, berteduh didalam gua, dan sebuah batu besar menutup rapat di mulut gua.

Beberapa tahun kemudian, pegawai tadi datang kepada hamba meminta upahnya. Kemudian hamba mengatakan kepadanya untuk mengambil sapi-sapi miliknya di kandang.

Pegawai tadi marah kepada hamba sambil mengingatkan hamba supaya takut kepada Allah, karena dia menyangka hamba mempermainkannya.

Kemudian hamba berkata kepadanya bahwa hamba tidak mempermainkannya. Pada saat pegawai itu pergi, upahnya hamba belikan sapi, dan sekarang sapi itu beranak-pinak.”

Kemudian pengusaha tadi berdo‘a: "Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa hamba berbuat demikian kepada pegawai hamba itu karena ibtighooa wajhika semata-mata untuk mencari wajah-Mu, maka singkirkanlah batu yang menutup gua ini".

Do'a makbul. Batu berton-ton beratnya itu bergeser. Begitulah salah satu hadits dari Nabi Muhammad SAW, tentang betapa hebat dan makbul do‘a seorang majikan yang jujur.

Maka itu tepat ucapan Presiden SBY menyambut peringatan May Day Hari Buruh Internasional 1 Mei yang di Indonesia baru dirayakan sejak reformasi tahun 2006: "Kepada manajemen, jika perusahaan mendapatkan keuntungan, jangan lupa membaginya dengan pekerja."

Sebuah ajakan kepada pihak yadul ‘ulya (tangan yang diatas) untuk membagi dan memberikan hak-haknya dengan ikhlas kepada pihak yadus sufla (tangan yang dibawah). Jadi bukan ajakan yadus sufla berdemo menuntut kepada yadul ‘ulya.

Sebenarnya kesejahteraan pegawai ada ukurannya. Rasio IHK (Indeks Harga Konsumen) terhadap IUR (Indeks Upah Riil) untuk mengukur apakah kenaikan gaji bisa menutup kenaikan harga barang dan jasa. Apakah upah total (upah pokok, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, lembur) bisa menutup kebutuhan riil pegawai. Ada Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli. Ada Gini Rasio (GR) untuk mengukur pemerataan pendapatan.

Dengan melihat berbagai indikator, IHK/IUR Indonesia masih jauh dari angka 100% sehingga boro-boro para pegawai bisa menabung. PPP Indonesia kurang dari 50% PPP Thailand. Sementara GR Indonesia tertinggi, artinya rezeki Alloh SWT belum terbagikan secara merata.

Ada korelasi linier antara motivasi pekerja dengan kinerja perusahaan. Apalagi ini zaman HAM, bukan zaman kolonial. Untuk meningkatkan kinerja, yang diperlukan adalah tipe kepemimpinan motivator, bukan repressor-demotivator. Dan peningkatan upah adalah salah satu motivator. Tinggal memutuskan mana telur mana ayam: upah meningkat kinerja meningkat, atau kinerja meningkat upah meningkat.

Di sebuah hadits Nabi mengatakan bahwa setiap majikan sebagai penggembala akan ditanya tentang seluk-beluk pegawainya sebagai gembalaannya. Di hadits lain Nabi memerintahkan supaya majikan membayar upah sebelum keringat pegawai kering.

Kembali ke cerita Nabi tentang pengusaha yang terjebak di gua. Jadi, jika pihak pimpinan perusahaan sebagai pihak yadul ‘ulya sudah habis-habisan berusaha dan berdo‘a untuk memperbaiki profil profit & loss tetapi belum juga do‘anya makbul, boleh jadi penyebabnya adalah karena hak-hak pekerja, sebagai yadus sufla, belum sepenuhnya dipenuhi.

Teddy Suratmadji